
Foto: Dok Pribadi/Natera
Malang – Halo Naters! Di sebuah sudut permukiman RW 02 Kota Malang, tumpukan sampah tak lagi dipandang sebagai sisa yang harus segera disingkirkan. Di tangan warga yang tergabung dalam Unit Bank Sampah Mandiri (BSM) Wiro Sableng M212, limbah justru menjadi pintu masuk bagi praktik ekonomi sirkular berbasis komunitas. Di sinilah, sampah rumah tangga dipilah, ditabung, dan sebagian diolah menjadi produk kreatif bernilai guna.
BSM Wiro Sableng M212 bermula dari kebijakan kader lingkungan yang mewajibkan setiap RW memiliki bank sampah. Dari kewajiban itulah, warga RW 02 membentuk unit pengelolaan sampah yang kemudian diberi nomor induk M212.
Mengelola yang Tak Dianggap
Dalam operasionalnya, Unit BSM Wiro Sableng M212 mengelola sekitar 70 jenis sampah. Sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik, kardus, dan logam disetorkan ke bank sampah induk. Namun fokus utama unit ini justru pada jenis limbah yang sering diabaikan pasar: bungkus kopi, sachet deterjen, bungkus sabun cuci piring, hingga kemasan kecil sekali pakai.
“Kebanyakan bungkus kopi karena paling banyak tersedia. Selain itu, ada botol, gelas, bras plastik, dan bungkus Sunlight yang masih laku dijual.” kata Nur.
Alih-alih dibuang ke TPA, sampah jenis ini dipilah, dicuci, dikeringkan, lalu diolah secara manual menjadi produk kerajinan. Prosesnya membutuhkan ketelatenan tinggi, terutama dalam menjaga kebersihan dan warna plastik agar tetap layak diolah.
Dari Bank Sampah ke Ruang Edukasi
Lebih dari sekadar tempat produksi, Unit BSM Wiro Sableng M212 juga berfungsi sebagai ruang edukasi lingkungan. Sekolah, komunitas, hingga kelompok ibu-ibu rutin datang untuk belajar memilah sampah dan membuat kerajinan sederhana.
Di luar produksi, peran utama Unit BSM Wiro Sableng M212 justru terletak pada edukasi lingkungan. Program seperti Jumat Bersih menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak dan warga. Setiap pekan, anak-anak TPQ dan warga sekitar diajak mengumpulkan kemasan plastik, memilahnya, lalu mengenal proses daur ulang secara langsung.
Pendekatan praktik ini dianggap lebih efektif dibanding sekadar sosialisasi. Anak-anak tidak hanya mendengar tentang bahaya sampah, tetapi melihat sendiri bagaimana limbah dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Selain itu, unit ini juga rutin menerima kunjungan ko-kurikuler dari sekolah-sekolah berbagai daerah di Indonesia.
“Anak-anak diberi edukasi dan praktik langsung mengumpulkan dan memilah kemasan plastik, ujarnya.”
Kegiatan edukasi ini memperkuat posisi Unit BSM Wiro Sableng M212 bukan hanya sebagai pengelola sampah, tetapi sebagai ruang belajar bersama tentang keberlanjutan.
Operasional BSM M212
Operasional Unit BSM Wiro Sableng M212 tidak berjalan oleh satu atau dua orang saja. Di balik aktivitas penyetoran dan pemilahan sampah, ada jejaring warga yang terlibat secara aktif. Sekitar 60 orang anggota bank sampah, bersama kader lingkungan dan warga sekitar, mengambil peran dalam pengumpulan, penyortiran, hingga pengelolaan sampah harian. Keterlibatan ini membuat pengelolaan sampah tidak lagi menjadi urusan individu, melainkan kerja kolektif berbasis lingkungan tempat tinggal. Pola gotong royong inilah yang menjaga unit ini tetap berjalan, meski dengan sumber daya terbatas dan tantangan konsistensi yang terus dihadapi.
Diapresiasi karena Konsisten dan Berkelanjutan
Upaya Unit BSM Wiro Sableng M212 dalam mengelola sampah berbasis warga tidak luput dari perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dalam proses penilaian verifikasi lapangan Adipura, tim DLH menyoroti konsistensi kegiatan yang dijalankan unit ini mulai dari pengumpulan dan pemilahan sampah, pembukuan bank sampah, hingga keberlanjutan program edukasi yang rutin dilakukan.
“Kami juga di apresiasi oleh DLH Kota Malang berupa pengakuan atas konsistensi kegiatan dan keberlanjutan program”. Katanya.
Apresiasi tersebut bukan sekadar penilaian administratif, melainkan pengakuan bahwa pengelolaan sampah di tingkat komunitas dapat berjalan efektif ketika dilakukan secara berkesinambungan. Bagi pengelola M212, pengakuan ini menjadi penguat untuk terus menjaga ritme kegiatan, sekaligus membuktikan bahwa gerakan kecil di tingkat RT mampu berkontribusi nyata dalam upaya pengurangan sampah kota.
Upaya mereka tidak berjalan di ruang kosong. Unit ini pernah masuk dalam proses penilaian Verifikasi Lapangan (Verlap) Adipura oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Aspek yang dilihat mencakup pembukuan, alur sampah, hingga konsistensi program.
Tak hanya itu, di balik kerja senyap mereka, tersimpan deretan prestasi. M212 dan unit BSM Wiro Sableng tercatat pernah menyabet sejumlah penghargaan tingkat kota dan regional, termasuk sebagai pengelola bank sampah berprestasi, juara dalam lomba pengelolaan lingkungan berbasis warga, dan partisipan unggulan dalam ajang kriya daur ulang.