Kolaborasi Kompas dan Kopi Nako Lewat “Daur Baur”

Kolaborasi Kompas dan Kopi Nako menunjukkan bahwa sampah bukan akhir cerita.
Lewat “Daur Baur”, limbah plastik dan koran bekas diolah menjadi karya bernilai
Foto: Dok Pribadi/Natera

Di balik geliat Kota Malang sebagai kota pendidikan dan kuliner, persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Aktivitas konsumsi yang tinggi termasuk dari industri makanan dan minuman terus menghasilkan limbah plastik sekali pakai. Di tengah tantangan itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menumbuhkan kesadaran bersama. Inilah yang coba diwujudkan Kompas dan Kopi Nako melalui program daur ulang bertajuk “Daur Baur”.

Lewat kolaborasi ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah produk, melainkan awal dari cerita baru. Plastik bekas gelas kopi dan koran cetak yang biasanya berakhir sebagai limbah, diproses ulang menjadi karya fungsional yang membawa pesan keberlanjutan.

Dari Gerai Kopi ke Material Baru

Di Malang, Kopi Nako dikenal sebagai salah satu destinasi nongkrong yang ramai dikunjungi. Aktivitas ini beriringan dengan penggunaan gelas plastik berbahan polypropylene (PP). Melalui “Daur Baur”, plastik-plastik tersebut dikumpulkan dari berbagai gerai Kopi Nako, termasuk yang berada di Malang dan sekitarnya.

Wadah bekas itu dibersihkan lalu dipilah sebelum masuk ke tahap pencacahan. Plastik kemudian diubah menjadi bijih kecil transparan yang siap diolah kembali. Pada tahap berikutnya, bijih plastik diberi warna sesuai desain produk yang akan dibuat, lalu dipres hingga menjadi lembaran padat.

Dalam waktu kurang dari satu jam, cacahan plastik berubah wujud menjadi material baru. Lembaran inilah yang menjadi dasar berbagai produk kolaborasi menunjukkan bahwa limbah dari aktivitas sehari-hari bisa diputar kembali ke dalam siklus yang lebih berkelanjutan.

Lebih dari Program Daur Ulang

Daur Baur tidak dimaksudkan sebagai program daur ulang biasa. Kolaborasi ini menjadi ruang belajar bersama antara media dan industri. Kopi Nako merefleksikan dampak dari aktivitas bisnisnya, sementara Kompas membawa perspektif edukasi dan narasi keberlanjutan.

Bagi Kompas, kolaborasi ini memperluas peran media yang selama ini mengangkat isu lingkungan lewat tulisan. Praktik nyata pengelolaan limbah menjadi bentuk konsistensi antara pesan dan tindakan. Sementara bagi Kopi Nako, program ini menunjukkan bahwa industri kuliner dapat mengambil peran lebih jauh dari sekadar mengurangi penggunaan plastik.

”Utamanya, kami ingin mengajak teman-teman, baik yang bergerak di industri bisnis food and beverage maupun teman-teman generasi muda, baik itu komunitas dan kelompok lainnya supaya lebih perhatian terhadap isu lingkungan, terutama soal sampah plastik,” kata Robert saat wawancara bersama kompas .

Lebih dari Produk, Sebuah Pesan Kolektif

Kolaborasi Kompas dan Kopi Nako lewat Daur Baur menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja. Media, pelaku usaha, komunitas kreatif, dan konsumen memiliki peran yang saling terkait. Ketika salah satunya bergerak sendiri, dampaknya terbatas. Namun saat kolaborasi terbangun, pesan keberlanjutan bisa menjangkau lebih luas.

Bagi Kompas, kolaborasi ini menjadi bentuk perluasan peran media. Tidak hanya menyampaikan isu keberlanjutan melalui tulisan, tetapi juga membuktikan bahwa media dapat terlibat langsung dalam praktik pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Ini menjadi pernyataan bahwa jurnalisme dan aksi nyata tidak harus berjalan terpisah.

Sementara bagi Kopi Nako, Daur Bauradalah cara untuk merefleksikan kembali dampak bisnisnya terhadap lingkungan. Dengan mengolah limbahnya sendiri, mereka menunjukkan bahwa industri food and beverage memiliki ruang besar untuk berkontribusi dalam ekonomi sirkular bukan sekadar menghasilkan sampah, tetapi juga solusi.

Koran Bekas Jadi Cerita Baru

Kolaborasi antara Kompas dan Kopi Nako menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya soal mengolah sampah plastik, tetapi juga menyatukan material lain agar menjadi bagian dari narasi baru. Potongan koran yang sebelumnya diproduksi sebagai medium informasi kini ditempatkan di antara lapisan plastik yang sedang dipres. Dengan cara ini, teks dan gambar yang semula hanya dibaca lalu dibuang menjadi bagian dari produk fisik.

Partisipasi Kompas dalam proyek ini bukan sekadar menjadi penyedia bahan baku. Media ini melihat peluang untuk menerjemahkan perannya dalam isu lingkungan secara konkret, dari sekadar menyampaikan laporan dan opini, menjadi aksi langsung yang bisa dipegang dan dirasakan oleh publik yang lebih luas. 

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.