
Foto: Dok Pribadi/Natera
Kompos sampah organik rumah tangga menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengurangi sampah yang dihasilkan setiap hari. Melalui kompos sampah organik rumah tangga, sisa dapur seperti kulit buah, sayur, dan daun kering dapat kembali menjadi pupuk alami bagi tanah. Praktik kompos sampah organik rumah tangga ini kini semakin dikenalkan oleh pegiat lingkungan sebagai langkah awal membangun kesadaran pengelolaan sampah dari rumah.
Masalah sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang terus dihadapi banyak kota di Indonesia. Banyak orang merasa persoalan sampah selesai ketika kantong sampah sudah diambil oleh petugas kebersihan. Padahal, perjalanan sampah sebenarnya baru dimulai setelah itu.
Pegiat lingkungan sekaligus penggagas kelas Belajar Zero Waste, DK Wardhani, menilai kebiasaan tersebut membuat masyarakat tidak benar-benar menyadari dampak dari sampah yang mereka hasilkan setiap hari. Menurutnya, sebagian besar orang tidak melihat langsung ke mana sampah itu berakhir.
Masalah sampah itu masalah yang hampir semua orang tidak pernah lihat. Rumah kita bersih, sampah sudah diambil petugas, lalu kita merasa masalahnya selesai,” kata DK Wardhani.
Ia menjelaskan, cara pandang seperti ini membuat masyarakat sulit menyadari bahwa setiap individu sebenarnya memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Padahal, pengelolaan sampah yang lebih baik bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah, salah satunya dengan mengolah sampah organik menjadi kompos.
Melalui berbagai program edukasi yang ia jalankan, DK Wardhani berusaha mengenalkan kembali praktik pengolahan sampah yang sebenarnya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di masa lalu.
Ia mengingat bagaimana pada masa kecilnya banyak barang yang digunakan secara berulang, mulai dari botol kaca yang ditukar kembali hingga wadah makanan yang dibawa sendiri ketika berkunjung ke tetangga. Sistem tersebut secara tidak langsung membuat jumlah sampah jauh lebih sedikit dibandingkan sekarang.
Dulu kita beli minyak goreng dituang ke botol sendiri, beli kecap tukar botol, semuanya berputar. Barang tidak menumpuk seperti sekarang,” ujarnya.
Kompos sebagai Langkah Dasar Mengelola Sampah Organik

Foto: dkwardhani
Salah satu jenis sampah terbesar yang dihasilkan rumah tangga adalah sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun kering. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik akan menumpuk di tempat pembuangan akhir dan menghasilkan emisi gas yang berdampak pada lingkungan.
Menurut DK Wardhani, pengolahan sampah organik melalui kompos bisa menjadi langkah paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mulai mengurangi sampah dari sumbernya.
Dalam berbagai kegiatan edukasi yang ia lakukan, masyarakat didorong untuk memisahkan sampah organik dari sampah lainnya dan mengolahnya menggunakan komposter rumah tangga.
Karena di program kami hanya menerima sampah anorganik, saya justru mendorong member untuk punya komposter di rumah masing-masing. Jadi sampah organik seperti sisa dapur bisa diolah sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan, mengolah sampah organik tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga membuat masyarakat lebih sadar terhadap pola konsumsi mereka sendiri.
Ketika seseorang mulai melihat dan mengumpulkan sampah yang dihasilkan setiap hari, mereka akan lebih mudah menyadari seberapa banyak makanan atau bahan yang terbuang.
Memilah sampah itu sebenarnya baru langkah awal. Dari situ kita bisa melihat seberapa banyak konsumsi kita. Kalau sampahnya banyak, berarti konsumsi kita juga banyak,” kata DK Wardhani
Kesadaran ini, menurutnya, menjadi pintu masuk penting untuk membangun gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Edukasi Rumah Tangga Jadi Kunci Perubahan
Selain mengedukasi masyarakat tentang kompos, DK Wardhani juga menjalankan program pengelolaan sampah berbasis komunitas bernama Sapa Bumi. Program ini berfungsi sebagai titik pengumpulan sampah anorganik yang telah dipilah oleh para anggota.
Dalam program tersebut, setiap anggota diminta menyimpan sampah yang telah dipilah di rumah mereka sebelum disetorkan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sampah tersebut kemudian dijual kepada pengepul, dan hasilnya digunakan kembali untuk kegiatan edukasi maupun hadiah bagi anggota yang aktif.
Namun, DK Wardhani menegaskan bahwa tujuan utama dari program tersebut bukanlah mengumpulkan sampah sebanyak mungkin.
Prestasi itu bukan ketika kita bisa mengirim sampah sebanyak-banyaknya secara terpilah. Prestasi sebenarnya adalah ketika kita bisa mengurangi sampah,” ujarnya.
Melalui berbagai kegiatan edukasi, ia juga mengingatkan masyarakat bahwa sistem pengelolaan sampah saat ini masih sangat bergantung pada tenaga manusia yang harus memilah sampah secara manual di tempat pengolahan.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa tanggung jawab terhadap sampah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pihak lain.
Kita menghasilkan sampah, tapi orang lain yang harus memilahnya. Menurut saya itu tidak adil,” kata DK Wardhani.
Ia juga menyoroti meningkatnya produksi sampah pada momen tertentu, seperti bulan Ramadan. Berdasarkan pengamatannya, volume sampah justru meningkat karena pola konsumsi masyarakat yang lebih tinggi.
Di Indonesia saat Ramadan sampah bisa naik sekitar 20 persen. Artinya kita masih punya banyak pekerjaan rumah untuk mengubah pola konsumsi,” ujarnya.
Bagi DK Wardhani, perubahan perilaku memang tidak terjadi secara instan. Namun ia percaya langkah kecil seperti memilah sampah dan membuat kompos dari sisa dapur dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.
Dengan semakin banyak rumah tangga yang mulai mengelola sampahnya sendiri, ia berharap kesadaran terhadap lingkungan dapat tumbuh secara perlahan namun konsisten.