
Kota Malang – Di sebuah gudang sederhana di kawasan Blimbing, tumpukan jerigen minyak jelantah tidak sekadar menunggu untuk diangkut menuju proses ekspor. Di tempat inilah Hari Supriyatno, pemilik Palim Eco Friendly, pernah mencoba sesuatu yang lebih kecil tetapi bermakna: mengubah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dan sabun batang.
Meski percobaannya tidak berlanjut menjadi lini bisnis, jejak kecil itu menunjukkan satu hal penting bahwa limbah dapur masih punya peluang kedua sebelum akhirnya masuk ke rantai biodiesel.
Dari Kalimat Sederhana menuju ke Wisata Jelantah
Tujuh tahun lalu, sebelum nama Palim dikenal, Hari memulai dari hal yang ia sebut
“iseng saja mencoba.” begitu Hari Berkata
Temannya menawarkan peluang mengumpulkan minyak jelantah, dan tanpa modal, ia mulai keliling kampung dengan sepeda, mengambil satu hingga dua liter dari warung kecil atau ibu rumah tangga.
Tak ada target, tak ada strategi besar. Yang ada hanya rasa penasaran dan keinginan sederhana: menemukan cara agar minyak jelantah tidak lagi menyumbat wastafel rumahnya.
Seiring waktu, aktivitas itu berkembang menjadi usaha pengepulan minyak jelantah yang kini mampu mengumpulkan sekitar 400 liter per hari, dengan dua gudang operasional Belimbing dan Turen.
Eksperimen Kecil: Dari Jelantah Menjadi Lilin dan Sabun
Sebelum sepenuhnya fokus memasok kebutuhan pabrik biodiesel, Palim sempat melakukan berbagai percobaan. Dua di antaranya adalah membuat sabun batang dan lilin aromaterapi dari jelantah.
“Dulu pernah coba bikin satu dua, tapi belum ada partner yang bisa bantu pengemasan dan pemasaran,” tutur Hari.
Sabun jelantah itu bukan sabun untuk mandi. Teksturnya kurang nyaman digunakan di kulit, tetapi cukup baik untuk mencuci peralatan rumah tangga. Lilinnya pun belum diproduksi besar-besaran, namun cukup menarik untuk menunjukkan bahwa jelantah tidak sekadar limbah kotor.
Percobaan-percobaan kecil itu diberikan sebagai contoh kepada pelanggan, semacam edukasi bahwa:
“Jelantah bisa jadi produk lain loh, bukan cuma dibuang.” Begitu Hari menyebut
Meski kini tidak lagi diproduksi, upaya itu menjadi bagian dari perjalanan Palim dalam mengenalkan potensi limbah minyak kepada masyarakat.
Jelantah dan Jalan Panjang Menuju Ekspor
Fokus utama Palim saat ini adalah mengumpulkan jelantah dari rumah tangga, warung kecil, bank sampah, restoran, hingga hotel. Tidak ada batas minimal. Satu liter pun diambil, tanpa ongkos penjemputan.
Model usaha inilah yang membuat Palim bertahan: memulai dari yang kecil, bukan dari suplai besar.
Jelantah yang masuk disaring dari campuran air dan kotoran, kemudian dikumpulkan dalam tandon besar. Setelah volumenya cukup, barulah diambil oleh pabrik eksportir. Dari sana, minyak jelantah menjalani proses lanjutan hingga akhirnya dikirim menuju pabrik biodiesel di luar negeri, terutama Belanda.
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Musim hujan, kebijakan ekspor, hingga fluktuasi harga global membuat harga beli jelantah bisa berubah setiap 2–3 minggu. Tetap saja, Palim berusaha stabil memberi Rp5.000 per liter kepada masyarakat yang menyetor.
Edukasi: Pekerjaan yang Tidak Pernah Selesai
Salah satu tantangan terbesar Palim bukan pada proses pengumpulan atau ekspor, tetapi pada pemahaman masyarakat tentang pengelolaan jelantah. Banyak rumah tangga yang masih membuang minyak goreng bekas ke saluran air, mencampurnya dengan sampah, atau menggunakannya berkali-kali hingga membahayakan kesehatan.
Inilah yang membuat Hari aktif melakukan edukasi. Mengunjungi PKK, pertemuan warga, hingga kelompok kecil ibu rumah tangga. Ia membawakan penjelasan sederhana tentang bagaimana jelantah diproses, potensi bahayanya, dan manfaat ekonominya.
Untuk membuat sesi lebih hidup, Palim sering membawa doorprize kecil sebagai bentuk apresiasi bagi warga yang aktif bertanya dan menjawab. Tidak jarang edukasi itu menjadi pembuka bagi warga yang sebelumnya ragu menyetor minyaknya.
Bagi Palim, edukasi ini bukan sekadar strategi pemasaran. Ini adalah bentuk tanggung jawab lingkungan.
“Yang penting masyarakat paham dulu. Urusan jumlah nanti bisa mengikuti,” ujarnya.
Jejak Kecil yang Mengarah ke Dampak Besar
Meski eksperimen lilin dan sabun tidak lagi diproduksi, pengalaman itu membuka pandangan banyak pelanggan. Bahwa jelantah tidak hanya berakhir sebagai bahan bakar biodiesel, tetapi juga punya potensi lain yang bisa dikembangkan oleh UMKM, kelompok belajar, atau komunitas kreatif.
Jejak kecil itu menjadi inspirasi bahwa pengolahan limbah tidak harus dimulai dari pabrik besar, tetapi bisa dari rumah, dari percobaan sederhana, dari rasa ingin tahu. Dan justru jejak kecil seperti inilah yang sering menular.
Kini, semakin banyak warga yang sadar untuk menyimpan jelantah di botol dan menyetorkannya ke Palim. Ada pula bank sampah yang mulai menjadikan jelantah sebagai salah satu item tabungan lingkungan.
Pada akhirnya, Palim berhasil menunjukkan bahwa mengolah limbah bukan hanya urusan teknis, melainkan juga gerakan sosial yang tumbuh perlahan di antara masyarakat.
“Yang dulu dianggap tidak berguna, ternyata bisa jadi uang dan menyelamatkan lingkungan,” kata Hari. Sebuah kalimat sederhana yang merangkum seluruh perjalanan Palim.