Mengapa Merkuri Sulit Hilang dari Tambang Emas Indonesia?

Dari atas terlihat biasa, tetapi di balik setiap hamparan tambang, ada jejak yang bisa bertahan jauh lebih lama daripada emasnya.
Foto : Dok Tom Fisk/Pexels


Pernah kepikiran enggak, Naters? Cincin emas yang terlihat berkilau ternyata bisa menyimpan cerita kelam. Bukan cuma soal tambang ilegal, tetapi juga soal merkuri yang diam-diam meracuni manusia dan alam.

Selama ini, banyak orang mengira dampak merkuri hanya berhenti di area tambang. Padahal, logam beracun itu terus mengalir mengikuti sungai, masuk ke tanah, lalu berpindah ke rantai makanan. Pada akhirnya, semua orang bisa ikut menanggung risikonya.

Persoalan itu kembali mengemuka dalam webinar “Tujuh Dekade Pasca Tragedi Minamata: Apakah Indonesia Sudah Merdeka dari Merkuri?” yang diadakan oleh IPEN dan Nexus3 Foundation pada 8 Mei 2026. Para pakar kesehatan, lingkungan, akademisi, hingga penegak hukum berkumpul untuk membahas kondisi merkuri di Indonesia, tujuh dekade setelah tragedi Minamata mengguncang Jepang.

Diskusi itu membawa satu pesan sederhana. Tragedi Minamata belum benar-benar berakhir. Lokasinya saja yang berpindah.

Pembukaan webinar langsung mengingatkan peserta bahwa pencemaran merkuri masih terus berlangsung. Sungai, tanah, rantai makanan, hingga tubuh manusia masih menjadi tempat logam berat itu berlabuh.

“Mercury pollution has not ended. It continues in rivers and soils, in food chains, and in the bodies of workers, women, children, and communities living closest to contamination.” Ujarnya.

Mengapa persoalan ini sulit selesai?

Jawabannya ternyata berkaitan dengan harga emas dunia. Saat harga emas naik, aktivitas tambang emas skala kecil ikut meningkat. Banyak pelaku tambang masih memilih merkuri karena murah, mudah didapat, dan cepat memisahkan emas dari batuan.

Ana Paula Souza dari Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights menjelaskan bahwa pertambangan emas skala kecil kini menjadi sumber pencemaran merkuri terbesar di dunia. Paparan tidak hanya mengenai penambang, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar melalui makanan yang tercemar.

“The use of mercury from small-scale gold mining is the main source of mercury pollution globally today.” Jelasnya.

Pemerintah memang sudah meratifikasi Konvensi Minamata sejak 2017. Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri juga sudah berjalan. Sektor manufaktur, energi, dan alat kesehatan menunjukkan perkembangan positif.

Namun, sektor pertambangan emas skala kecil masih menyisakan pekerjaan besar.

Dalam webinar, Kementerian Lingkungan Hidup memaparkan bahwa target penghapusan merkuri pada 180 lokasi pertambangan baru mencapai sekitar 21 persen hingga 2024. Artinya, sebagian besar lokasi masih memakai logam beracun itu.

Persoalan tidak berhenti di sana. Perdagangan merkuri ilegal masih terus muncul. Aparat bahkan menemukan oknum yang ingin membeli kembali hasil sitaan negara.

Saat Merkuri Masuk ke Rantai Makanan

Naters, yang paling mengkhawatirkan justru bukan penambangnya.

Logam berat itu berubah menjadi metilmerkuri setelah masuk ke lingkungan perairan. Mikroorganisme membawa zat itu ke rantai makanan. Ikan kecil memakannya. Ikan besar memakan ikan kecil. Lalu manusia menikmati ikan itu di meja makan.

Tanpa sadar, merkuri ikut berpindah ke tubuh kita.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, mengingatkan bahwa korban paling rentan justru kelompok yang tidak pernah turun ke tambang.

“Kelompok yang paling berat menanggung dampak adalah janin, bayi, anak-anak, maupun ibu hamil.”

Paparan merkuri juga sulit dikenali. Gejalanya sering menyerupai penyakit lain. Banyak daerah bahkan belum memiliki laboratorium yang mampu memeriksa kandungan merkuri dalam tubuh secara cepat.

Lalu siapa yang sebenarnya membayar harga emas murah?

Jawabannya bukan hanya penambang.

Masyarakat sekitar kehilangan sungai yang bersih. Nelayan kehilangan sumber pangan yang aman. Anak-anak menghadapi risiko gangguan perkembangan sejak dalam kandungan. Pemerintah harus mengeluarkan biaya besar untuk pemulihan lingkungan.

Bahkan, proses itu bisa berlangsung puluhan tahun.

“Pemulihan pencemaran merkuri membutuhkan biaya sangat besar dan waktu yang sangat panjang.”

Di akhir sesi pembukaan, penyelenggara webinar menyampaikan ajakan yang terasa sederhana, tetapi sangat penting. Dunia tidak cukup hanya mengingat tragedi Minamata. Dunia juga perlu memastikan tragedi serupa tidak lahir di tempat lain.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.