
Foto: Dokumentasi pribadi/natera
Eco enzyme sebagai pembersih alam menjadi salah satu manfaat yang terus diperkenalkan Gung Endah kepada masyarakat. Berasal dari fermentasi kulit buah dan sisa sayuran, cairan alami ini tidak hanya membantu mengurangi sampah organik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pembersih rumah tangga hingga mendukung upaya menjaga kebersihan lingkungan secara lebih ramah terhadap alam.
Perempuan asal Kota Batu itu mengenal eco enzyme pada awal 2020 ketika mencari alternatif pupuk organik. Namun, setelah mempelajari lebih dalam, ia menemukan bahwa manfaat eco enzyme jauh melampaui kebutuhan berkebun. Cairan hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari sehingga mengurangi ketergantungan pada produk berbahan kimia sintetis.
“Ketemu eco enzyme ini, ternyata manfaatnya banyak banget. Bukan hanya buat pupuk. Dari situ aku langsung jatuh hati sama eco enzyme,” ungkapnya.
Sejak saat itu, Gung Endah mulai memperkenalkan berbagai cara pemanfaatan eco enzyme kepada masyarakat. Mulai dari membersihkan lantai, menghilangkan bau, hingga digunakan sebagai campuran dalam berbagai kebutuhan rumah tangga. Baginya, penggunaan eco enzyme menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.
Tak hanya di lingkungan rumah, pemanfaatan eco enzyme juga pernah diterapkan dalam kegiatan pengelolaan sampah. Gung Endah menceritakan pengalamannya ketika mendampingi penyemprotan eco enzyme di area tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai salah satu upaya membantu mengurangi bau akibat pembusukan sampah organik.
“TPA itu kan sampah dari rumah otomatis terkumpul. Tetap bisa disemprotkan di sel aktifnya, tapi juga disemprotkan di udara,” katanya.
Menurutnya, penyemprotan dilakukan pada area timbunan sampah maupun udara di sekitarnya. Berdasarkan pengalaman di lapangan, penggunaan eco enzyme membantu mengurangi aroma menyengat yang muncul dari proses pembusukan.
“Kalau disemprot dengan eco enzyme, akhirnya baunya jadi hilang,” ujarnya.
Selain itu, Gung Endah juga memanfaatkan eco enzyme untuk kebutuhan rumah tangga lainnya. Salah satunya adalah sebagai cairan pelicin saat menyetrika pakaian. Ia memilih menggunakan eco enzyme dibandingkan produk sintetis karena dinilai lebih aman dan tetap memberikan hasil yang baik.
“Saya nyetrika pakai eco enzyme F2. Enak, meskipun wanginya tidak menyengat, tapi aromanya segar dan bajunya cepat halus,” tuturnya.
Bagi Gung Endah, eco enzyme bukan sekadar cairan hasil fermentasi limbah organik. Lebih dari itu, eco enzyme menjadi sarana untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui edukasi yang terus dilakukan, ia berharap semakin banyak keluarga memanfaatkan limbah dapur menjadi eco enzyme. Selain mengurangi volume sampah organik, kebiasaan tersebut juga dapat menghadirkan alternatif pembersih yang lebih ramah lingkungan, sehingga langkah kecil dari rumah mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi kelestarian alam.