
Foto : Dok Pribadi/Natera
Dalam wajan yang panas dan minyak mulai mendesis, tanpa sadar kita memasak makanan sambil menghasilkan limbah. Minyak goreng bekas atau jelantah seringkali kita buang begitu saja, padahal menyimpan potensi besar sebagai sumber energi.
Jika dikelola dengan benar, jelantah dapat menjadi fondasi pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang kini berguna bagi industri penerbangan global. potensi jelantah itu ditangkap oleh Hari Suprayitno, seorang pengepul minyak goreng bekas.
Jelantah yang Kian Menggunung
Tahukah Naters, Indonesia memiliki peluang besar karena tingginya konsumsi minyak goreng nasional. Di mana, masyarakat kita terbiasa menggunakan minyak goreng sawit untuk kebutuhan rumah tangga hingga usaha kuliner.
Data BPS dan GAPKI mencatat konsumsi minyak goreng sawit mencapai 18,5 juta ton pada 2025. Seiring tingginya konsumsi, timbulan minyak jelantah juga meningkat signifikan. Riset Traction Energy Asia memperkirakan rumah tangga membuang 1,2 juta kiloliter minyak jelantah per tahun.
Angka tersebut belum mencakup sektor restoran, hotel, dan industri makanan yang volumenya jauh lebih besar. Jika digabungkan, potensi realistis minyak jelantah nasional dapat mencapai 3 juta kiloliter per tahun.
Jumlah itu juga sangat berpotensi meningkat seiring peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah. Program ini melibatkan sekitar 32.000 dapur umum yang melayani lebih dari 82 juta siswa setiap hari.
Jika satu dapur menggunakan rata-rata 800 liter minyak per bulan, volume jelantah nasional bisa menembus 4,5 juta kiloliter per tahun. Potensi ini menjadi penting dalam pencarian sumber energi rendah karbon tanpa membuka lahan baru.
PaLim, Pahlawan Limbah Kota Malang
Di Kota Malang, ada seorang pengepul minyak jelantah, Hari Suprayitno yang konsisten selama 7 tahun mengumpulkan minyak goreng bekas warga. Minyak yang terkumpul tak hanya berasal dari Malang, tetapi sampai ke Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, hingga Pandaan.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Kehadiran Hari tak sekedar menghasilkan rupiah, tetapi turut mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah minyak goreng. Karena itu, seiring waktu banyak orang menyebutnya “PaLim” atau Pahlawan Limbah.
“Dulu itu namanya Siklus Hijau. Pengumpulan Minyak Jelantah ini hampir 7 tahunan.”
PaLim berlokasi di Jalan Kolonel Sugiono No. 227, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Di tempat ini, Setiap liter minyak jelantah yang warga setorkan dihargai Rp5.000,00.
Sosialisasi Palim dari Warung ke Warung
Sejak awal, Hari aktif mendatangi warung makan dan rumah tangga untuk mensosialisasikan manfaat jelantah. Ia menjelaskan bahwa minyak bekas bukan limbah tak berguna, melainkan punya nilai jual dan dapat kembali bermanfaat menjadi biodiesel .
“Ada tim sendiri yang berasosialisasi, ya sama saya juga.”
Tak jarang, permintaan sosialisasi datang langsung dari masyarakat. Hari dan tim datang ke lokasi sambil membawa hadiah untuk menarik perhatian peserta.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Jadi kita datang kesana, terus kasih sosialisasi. Sambil, kita tahu kesana sambil kasih hadiah, kita mesti bawa doorprize 20 atau 15 doorprize lah kisarannya.”
Pemberian doorprize ini sebagai bentuk apresiasi agar peserta lebih antusias mengikuti sosialisasi. Dalam kegiatan ini, PaLim menjelaskan ciri minyak jelantah layak kumpul dan rencana pemanfaatannya.
Membangun Kepercayaan Warga
Meski sosialisasi rutin dilakukan, sebagian warga masih meragukan pengelolaan minyak jelantah PaLim. Banyak yang khawatir minyak tersebut ujung-ujungnya kembali menjadi minyak curah.
“Jadi memang ada 2 tipe masyarakat. ada yang memang belum aware akan manfaat dan dampak minyak jelantah dan ada masyarakat yang tau tapi belum trust kalau bakal diolah beneran jadi biodiesel.”
Untuk membangun kepercayaan, Hari selalu membawa surat resmi dari pihak pabrik pengolah. Dokumen ini menjadi bukti bahwa jelantah benar-benar digunakan sebagai bahan baku biodiesel yang akan diolah langsung di Belanda.
“kita kan punya surat. surat dari pabrik itu bisa jadi informasi bahwa memang bener-bener minyak jelantah itu dikhususkan untuk bahan baku biodiesel”
Edukasi juga kerap dilakukan kepada kelompok ibu-ibu PKK jika dibutuhkan. Dan tak jarang Hari datang langsung tanpa memungut biaya demi memperluas pemahaman masyarakat.
“Memang kadang-kadang mengasih edukasi ke Ibu-Ibu PKK juga bagi yang memerlukan kita. Jadi kalau memang ada, kita mengembalikan ke konsumen.”