Sampah di Meja Kopi, Potret Budaya Konsumsi dari Apa yang Kita Buang
Pagi itu, di sudut dapur sebuah kafe di Kota Malang, tumpukan kotak susu bekas berdiri rapi di pojok ruangan. Tidak berbau, terlipat, dan tampak aman.
Erik Yustiana, pemilik Yust Collection asal Malang, mengubah sampah nonlogam seperti kain perca, kertas, dan plastik menjadi produk fesyen ramah lingkungan bernilai tinggi. Usahanya tak hanya kreatif, tapi juga memberdayakan warga sekitar dan kurangi limbah kota.
Pagi itu, di sudut dapur sebuah kafe di Kota Malang, tumpukan kotak susu bekas berdiri rapi di pojok ruangan. Tidak berbau, terlipat, dan tampak aman.
Pagi di Capunglam Farm dimulai dengan suara yang khas, kepakan ayam dari kandang bambu, gemericik air kolam lele, dan aroma tanah basah yang bercampur sisa

Kertas selalu menyimpan jejak pengetahuan, tetapi tak semua buku berakhir di rak. Banyak halaman berhenti di sudut ruang, terlipat debu, atau masuk tumpukan di tempat
Pagi di sebuah lahan Capunglam tidak diawali dengan bau menyengat seperti bayangan banyak orang tentang pengolahan sampah. Yang terdengar justru suara ayam, gemericik air kolam,

iLitterless Go to School menanamkan edukasi pilah sampah dari sekolah hingga kampus di Malang lewat kolaborasi dan praktik langsung.
Pagi masih basah oleh sisa hujan ketika beberapa warga berjalan pelan di gang sempit permukiman Kota Malang. Di tangan mereka, botol plastik bekas diisi cairan
Mengulas perjalanan sampah dari sumbernya hingga menjadi sisa.
Menguak sisi tersembunyi industri dan strategi kapitalisme.
Menampilkan kisah tentang inovasi dan kreativitas di balik transformasi limbah menjadi suatu karya.
Mengajak perubahan kecil menuju gaya hidup yang lebih sadar dan ramah lingkungan.
Sapaan ringan dan penuh makna di setiap momen penting untuk bumi kita.