Pengelolaan Limbah Organik Berkelanjutan di Khace, Dari Tumpukan Daun Menuju Siklus Kehidupan

Seorang pekerja merawat lahan tanam di kawasan Khace, di tengah upaya pengelolaan limbah organik yang masih terus berkembang. Tumpukan daun dan sisa dapur yang sebelumnya dianggap limbah kini mulai diolah menjadi bagian dari siklus kehidupan baru, mencerminkan proses bertahap menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Foto Dok: Pribadi/Natera

Di sudut ruang terbuka Khace, tumpukan daun kering dan sisa dapur terlihat seperti “pekerjaan rumah” yang belum selesai. Tidak rapi, tidak instan, bahkan cenderung berantakan. Tapi justru dari situ cerita tentang keberlanjutan dimulai bukan dari hasil yang sudah jadi, melainkan dari proses yang terus dicoba, gagal, lalu dicoba lagi.

“Memang semuanya masih berproses. Komposnya pun juga masih dalam proses pembuatan,” ujar Judha Widitha.  

Kalimat itu bukan sekadar penjelasan, tapi seperti fondasi dari cara Khace memandang pengelolaan limbah organik sesuatu yang tumbuh, bukan sesuatu yang langsung sempurna.

Mengumpulkan, Bukan Membuang

Di Khace, limbah organik belum sepenuhnya berubah menjadi sistem canggih. Yang ada saat ini justru fase paling awal mengumpulkan, menumpuk, dan mulai mengolah. Sampah dapur, daun gugur, hingga sisa potongan rumput tidak dibuang keluar area. Semuanya dikumpulkan di satu titik untuk dikomposkan.

“Sampah organiknya kami kumpulkan di bawah untuk dikomposkan sementara ini nggak kami buang keluar, kami tumpuk dulu,” jelas Judha.  

Tumpukan itu mungkin terlihat sederhana. Tapi keputusan untuk tidak “membuang keluar” justru jadi langkah penting. Di banyak tempat, limbah organik masih dianggap sesuatu yang harus segera disingkirkan. Di sini, limbah diperlakukan sebagai bahan mentah sesuatu yang punya potensi untuk kembali ke tanah.

Rencana Besar Siklus yang Terus Berputar

Namun, proses itu tidak selalu berjalan mulus. Kompos yang diharapkan menjadi solusi pun masih dalam tahap pengembangan. Belum sepenuhnya jadi, belum sepenuhnya siap pakai. Khace seperti sedang berada di tengah eksperimen panjang: mencoba memahami ritme alam, bukan memaksanya bekerja sesuai target manusia.

Di balik itu, ada rencana yang lebih besar menghadirkan sistem berbasis siklus, di mana tidak ada yang benar-benar terbuang. Salah satu ide yang sedang digodok adalah penggunaan maggot untuk mengolah sampah organik.

“Salah satu rencana ke depan akan ada maggot, sampah dapur itu nanti akan masuk ke maggot. Dari maggot nanti akan dikasihkan makan ke ayam, jadi terus berputar,” ungkapnya.  

Jika berjalan, sistem itu akan membentuk lingkaran: sisa makanan diolah jadi maggot, maggot jadi pakan, ternak menghasilkan kotoran, lalu kembali jadi pupuk untuk tanaman. Siklus yang terdengar ideal tapi di Khace, itu masih sebatas rencana yang sedang dirakit pelan-pelan.

Semua Bisa Jadi Kompos, Tapi Tidak Instan

Dalam praktik sehari-hari, limbah organik di Khace banyak berasal dari aktivitas lanskap itu sendiri. Area dengan konsep tropis menghasilkan volume sampah alami yang cukup besar daun gugur, potongan tanaman, hingga sisa rumput. Semua itu tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola.

“Semuanya bisa, daun, rumput, itu bisa jadi kompos,” kata Judha.  

Namun mengubah “semua bisa” menjadi “semua benar-benar jadi” jelas bukan hal instan. Dibutuhkan waktu, pengetahuan, dan konsistensi. Di sinilah tantangan sebenarnya muncul bukan pada ide, tapi pada keberlanjutan praktiknya.

Antara Idealisme dan Realitas

Khace juga menghadapi dilema yang cukup umum dalam ekosistem organik idealisme versus realitas. Keinginan untuk sepenuhnya organik sering kali berbenturan dengan kondisi lingkungan sekitar yang belum mendukung.

“Kami ingin menjalankan pertanian organik, tapi kondisi lingkungan sekitar masih pakai pestisida akhirnya tanamannya banyak yang rusak,” jelasnya.  

Hal serupa juga berlaku pada pengelolaan limbah. Sistem yang diinginkan mungkin sudah jelas, tapi implementasinya membutuhkan adaptasi terus-menerus. Tidak ada formula pasti.

Tempat yang Memilih untuk Bertumbuh

Yang menarik, Khace tidak mencoba menyembunyikan ketidaksempurnaan itu. Justru sebaliknya mereka menjadikannya bagian dari narasi.

Bagi sebagian orang, pendekatan ini mungkin terasa kurang meyakinkan. Tapi bagi yang lain, justru terasa lebih relevan. Karena pada akhirnya, keberlanjutan memang bukan tentang hasil instan. Ia adalah proses panjang yang sering kali tidak terlihat rapi.

Di tengah tren gaya hidup ramah lingkungan yang kerap tampil “bersih” di media sosial, Khace menawarkan perspektif berbeda: bahwa di balik konsep green living, selalu ada fase berantakan yang harus dilalui.

Dan mungkin, justru dari tumpukan kompos yang belum jadi itulah, masa depan sistem yang lebih berkelanjutan sedang disiapkan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.