Perempuan, Dapur, dan Bumi: Jejak Ekofeminisme dalam Gerakan Zona Bening

Koordinator Zona Bening sedang diwawancarai oleh tim liputan di area  cafe terbuka yang dipenuhi tanaman hijau di Kota Batu.
Koordinator Zona Bening saat diwawancarai terkait upaya komunitas dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan di Kota Batu. 
Dokumentasi: Tim Natera.

Kota Batu – Di balik berbagai gerakan lingkungan yang tumbuh di Kota Batu, ada peran perempuan yang tak bisa dipisahkan. Dalam perjalanan komunitas Zona Bening, perempuan bukan hanya hadir sebagai peserta, tetapi menjadi penggerak utama dalam membangun kesadaran lingkungan dari lingkup terkecil rumah.

Menurut narasumber dari Zona Bening Rere, peran perempuan dalam gerakan lingkungan bukan sekadar simbol, tetapi bentuk nyata dari tanggung jawab terhadap kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa perubahan besar dalam menjaga lingkungan justru sering dimulai dari ruang domestik, terutama dapur.

“Kalau kamu ngomong soal perempuan dalam gerakan, bentuk yang paling jujur itu adalah ketika kamu mau memilah sampah sendiri. Itu adalah bentuk nyata mencintai diri dan keluargamu,” ujar Rere.

Dapur, dalam pandangannya, bukan hanya tempat memasak, tetapi menjadi pusat perubahan perilaku lingkungan. Di sanalah keputusan-keputusan kecil diambil mulai dari mengurangi plastik, memilih bahan ramah lingkungan, hingga memilah sampah rumah tangga.

Ia menambahkan bahwa tindakan sederhana yang dilakukan perempuan di rumah memiliki dampak jangka panjang, terutama dalam mendidik generasi berikutnya.

“Anak-anak itu tidak belajar dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang mereka lihat. Kalau ibunya memilah sampah, anaknya akan melihat dan meniru,” katanya.

Ekofeminisme dalam Praktik Sehari-hari

Gerakan lingkungan yang dilakukan perempuan di Zona Bening tidak selalu dimulai dari hal besar. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi pondasi utama. Salah satu contohnya adalah kebiasaan mengganti deterjen kimia dengan bahan alami seperti lerak, yang telah digunakan selama bertahun-tahun oleh narasumber.

Ia mengaku sudah menggunakan lerak selama lebih dari satu dekade sebagai alternatif ramah lingkungan dalam mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga.

“Aku sudah 12 tahun pakai lerak. Itu sebetulnya kearifan lokal kita yang dulu dipakai untuk mencuci batik,” jelas rere.

Penggunaan bahan alami seperti lerak tidak hanya mengurangi pencemaran air, tetapi juga menghidupkan kembali praktik tradisional yang lebih ramah lingkungan.

Bagi perempuan dalam gerakan ini, ecofeminisme bukan sekadar teori, melainkan gaya hidup yang dijalankan secara konsisten. Mereka menyadari bahwa kebiasaan konsumsi sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap lingkungan.

Kesadaran tersebut muncul dari pemahaman bahwa sampah bukan hanya persoalan individu, tetapi persoalan kolektif yang harus dihadapi bersama.

“Perempuan itu agen perubahan. Ketika dia berubah, keluarganya ikut berubah,” ujarnya.

Kolaborasi Perempuan dalam Gerakan Lingkungan

Selain bergerak secara individu, perempuan dalam komunitas Zona Bening juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai kelompok dan komunitas lain.

Kolaborasi ini dilakukan bersama sejumlah komunitas perempuan yang memiliki visi serupa dalam menjaga lingkungan.

Beberapa di antaranya adalah komunitas yang berfokus pada praktik hidup hijau, penggunaan bahan alami, serta edukasi lingkungan lintas komunitas.

Ia menyebut bahwa hubungan antar komunitas perempuan tidak hanya sebatas kerja sama formal, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama.

“Aku banyak belajar dari teman-teman lain, seperti dari komunitas yang mengajarkan penggunaan bahan alami, sampai gerakan lintas iman yang membahas lingkungan,” jelasnya.

Kolaborasi ini menjadi kekuatan penting dalam memperluas dampak gerakan lingkungan, terutama dalam menyasar berbagai kelompok masyarakat.

Perempuan dari latar belakang berbeda mulai dari ibu rumah tangga, akademisi, hingga relawan muda berkumpul dalam satu tujuan yang sama: menjaga lingkungan melalui tindakan nyata.

Kegiatan yang dilakukan pun beragam, mulai dari diskusi lingkungan, praktik penggunaan bahan alami, hingga kampanye pengurangan sampah.

Peserta mengikuti kegiatan kelas ecobrick Zona Bening dengan memilah dan memasukkan sampah plastik ke dalam botol sebagai bentuk edukasi pengelolaan limbah.
Peserta mengikuti kegiatan kelas ecobrick yang diselenggarakan oleh komunitas Zona Bening sebagai upaya mengurangi limbah plastik melalui edukasi langsung kepada masyarakat.
Dokumentasi: Instagram @zonabening.

Perempuan dan Gerakan Kolektif yang Berkelanjutan

Dalam perjalanan gerakan Zona Bening, perempuan tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga pemimpin dan penggerak dalam berbagai program.

Mereka terlibat dalam edukasi lingkungan, pelatihan pemilahan sampah, hingga kampanye hidup minim sampah di tingkat komunitas.

Menariknya, semangat kolaborasi perempuan dalam gerakan ini tidak hanya terbatas pada lingkup komunitas, tetapi juga menjangkau masyarakat luas.

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam Zona Bening membangun jaringan kuat yang memungkinkan mereka saling mendukung dalam menjalankan gaya hidup ramah lingkungan.

Menurut narasumber, kekuatan terbesar dari gerakan ini bukan pada jumlah program yang dijalankan, tetapi pada konsistensi individu dalam menjalani perubahan.

Ia menekankan bahwa perubahan perilaku lingkungan membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Perubahan itu bukan soal siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang konsisten melakukan,” ujarnya.

Kesadaran ini membuat gerakan perempuan dalam lingkungan tidak sekadar menjadi tren, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup yang berkelanjutan.

Menjaga Lingkungan, Menjaga Kehidupan

Peran perempuan dalam gerakan lingkungan di Zona Bening menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tindakan kecil.

Mulai dari memilah sampah, memilih bahan alami, hingga membangun kolaborasi antar komunitas, semua menjadi bagian dari perjalanan panjang menjaga bumi.

Gerakan feminisme yang tumbuh dalam komunitas ini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran lingkungan di masyarakat.

Melalui kebiasaan sederhana di rumah hingga kerja sama lintas komunitas, perempuan mampu menciptakan perubahan yang berdampak luas.

Menurut kaca mata Natera. Pada akhirnya, yang menjaga lingkungan bukan hanya soal aksi besar, tetapi tentang pilihan kecil yang dilakukan setiap hari.

Dan bagi perempuan di Zona Bening, menjaga bumi berarti menja

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.