
kelas edukasi zero waste masyarakat belajar pengelolaan sampah
Malang — Halo Naters! Di banyak rumah di Indonesia, sampah sering kali berakhir dalam satu kantong plastik yang sama. Diikat rapat dengan kresek, lalu diletakkan di depan rumah untuk diambil petugas kebersihan. Setelah itu, sebagian besar orang merasa persoalan sudah selesai. Padahal, perjalanan sampah sebenarnya baru dimulai.
Kesadaran tentang persoalan ini justru datang dari ruang kelas. Bagi DK Wardani, seorang dosen arsitektur, titik awalnya bukan dari aktivisme lingkungan, melainkan dari pengalaman mengajar. Saat itu, ia diminta mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan lingkungan, meski bidang tersebut bukan fokus keilmuannya.
Alih-alih menolak, Wardani memilih menjalani peran tersebut sambil belajar. Ia mempelajari berbagai isu lingkungan secara mandiri, mulai dari sistem pengelolaan sampah hingga perilaku konsumsi masyarakat.
“Awalnya saya mengira sumber sampah terbesar itu dari pasar atau fasilitas umum. Tapi setelah dipelajari, ternyata rumah tangga adalah penghasil sampah terbesar secara nasional,” ujarnya.
Dari proses belajar itu, ia mulai menyadari bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Dari Dosen Arsitektur Belajar Lingkungan
Sebagai dosen arsitektur, DK Wardani awalnya tidak secara khusus menekuni isu lingkungan. Namun pengalaman mengajar membuatnya melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Semakin ia mempelajari topik tersebut, semakin terlihat bahwa persoalan sampah di Indonesia bukan hanya soal teknologi atau fasilitas, melainkan juga soal perilaku.
Kebiasaan masyarakat membuang sampah dalam satu kantong plastik menjadi salah satu contoh paling sederhana.
“Orang buang sampah pasti di kresek supaya rapi dan tidak tercecer. Padahal justru di situlah pangkal masalahnya, karena sampahnya campur. Petugas sudah tidak mungkin memilah satu per satu,” katanya.
Ia juga melihat bagaimana masyarakat sering kali tidak menyadari dampak yang ditimbulkan dari kebiasaan tersebut. Selama sampah sudah diambil oleh petugas kebersihan, persoalan dianggap selesai.
“Rumah kita bersih, sampah sudah diambil petugas, jadi banyak orang merasa masalahnya selesai. Padahal mereka tidak melihat apa yang terjadi di tempat pembuangan akhir,” ujarnya.
Kesadaran tersebut membuat DK Wardani mulai memikirkan cara untuk menjembatani jarak antara pengetahuan dan praktik pengelolaan sampah.
Kelas Belajar Zero Waste
Dari kegelisahan itu, Wardani kemudian menggagas sebuah program edukasi bernama kelas belajar zero waste. Program ini dirancang sebagai ruang belajar bagi masyarakat untuk memahami pengelolaan sampah secara praktis.
Kelas ini tidak hanya membahas teori tentang sampah, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan kebiasaan hidup minim sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Program tersebut kini telah berjalan selama sekitar tujuh tahun. Dalam kurun waktu itu, peserta yang mengikuti kelas datang dari berbagai latar belakang dan daerah di Indonesia.
Mereka mengikuti serangkaian pembelajaran yang membahas berbagai praktik pengelolaan sampah rumah tangga, seperti pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, hingga perubahan pola konsumsi.
Setelah menyelesaikan rangkaian pembelajaran, peserta akan mendapatkan sertifikat sebagai tanda kelulusan dari program tersebut.
Bagi Wardani, kelas ini bukan sekadar program edukasi, tetapi juga upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan yang sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari.
Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah
Dalam perjalanannya, DK Wardani menyadari bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak bisa terjadi hanya melalui aturan atau kebijakan. Perubahan tersebut perlu dimulai dari kesadaran individu.
Salah satu pendekatan yang ia lakukan adalah mengajak masyarakat melihat kembali kebiasaan konsumsi yang pernah ada di masa lalu.
Menurutnya, masyarakat Indonesia sebenarnya pernah memiliki praktik yang lebih ramah lingkungan.
“Dulu beli minyak goreng dituang ke botol sendiri, beli kecap tukar botol. Barang itu berputar, tidak menumpuk di rumah,” katanya.
Namun kebiasaan tersebut perlahan menghilang seiring berkembangnya gaya hidup praktis dan produk sekali pakai.
“Masyarakat kita sekarang dimanjakan dengan berbagai kemudahan. Kalau ada yang mudah, siapa yang mau cari yang susah,” ujarnya.
Melalui kelas belajar zero waste, DK Wardani berharap masyarakat mulai melihat sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang harus dikelola sejak dari sumbernya.
Ia percaya perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil membawa tas belanja sendiri, memilah sampah di rumah, atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Langkah-langkah sederhana itu mungkin terlihat kecil. Namun jika dilakukan bersama, ia dapat menjadi awal dari perubahan cara manusia hidup berdampingan dengan lingkungan.