Relawan Sedikit Saat Clean Up, Trash Hero tetap Bangkit dengan Semangat

Trash Hero Tumapel, komunitas lingkungan di Malang Raya, terus melakukan aksi bersih lingkungan meski sering kali hanya diikuti lima hingga enam relawan. Berdiri sejak 2018, komunitas ini memilih tetap bergerak karena percaya perubahan lingkungan tidak selalu lahir dari keramaian, tetapi dari konsistensi.

Dalam aksinya, sering kali Trash Hero mengalami berbagai kendala lapang. Mulai dari curam dan licinnya sungai hingga medan ekstrem yang menghambat proses evakuasi sampah. Namun, bagi Trash Hero ini bagaikan makanan sehari-hari yang biasa mereka hadapi.

Selain sulitnya proses evakuasi, kendala utama yang sering mereka alami adalah minimnya relawan yang turut serta dalam aksi. Trash Hero Chapter Tumapel yang hanya beranggotakan beberapa individu ini sering kali mengalami kesulitan dalam aksi nya.

“Relawan inti yang aktif itu sekitar sembilan sampai sebelas orang,” ujar Basil, Ketua Trash Hero Tumapel.

Ia juga menambahkan bahwa usia anggota nya pun beragam, dari siswa SMA hingga dosen. Namun dalam praktiknya, ketika aksi clean up digelar di hari kerja atau lokasi yang medannya sulit, jumlah relawan yang turun sering kali hanya lima atau enam orang.

Bagi sebagian komunitas, angka itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti atau menunda kegiatan. Namun tidak bagi Trash Hero. Mereka memilih tetap turun, meski harus memanggul karung sampah sendiri dari dasar sungai yang curam, atau mengangkut hasil pilahan dengan motor karena tidak ada akses kendaraan.

We Clean, We Educate, We Change!

Keterbatasan ini membuat Trash Hero Tumapel tidak sekadar fokus pada aksi bersih-bersih. Mereka pun mengusung pendekatan yang mereka sebut “We Clean, We Educate, We Change”. Bagi mereka Clean up hanyalah pintu masuk. Selebihnya, mereka bergerak ke edukasi masyarakat dan advokasi kebijakan publik, terutama soal pengurangan plastik sekali pakai di Malang Raya.

Walaupun sering kali mereka merasa tidak terbantu dengan warga sekitar, Trash Hero terus melakukan aksi bersih dan tak pernah menyalahkan masyarakat atas kondisi tersebut. Menurut mereka, perilaku warga yang membuang sampah ke sungai bukan karena tidak peduli, tapi tidak memiliki pilihan.

“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyalahkan masyarakat ya karena sebenernya masyarakat itu kadang gak punya pilihan,” ujar Basil.

Selain itu, kondisi pemukiman yang sempit dan kebijakan yang belum berpihak terhadap masyarakat juga menjadi salah satu penyebab sungai jadi “opsi terakhir”. Dalam situasi ini, Trash Hero memilih strategi sederhana namun memberi kesan mendalam, yaitu keteladanan. Bagi Trash Hero “keteladanan” ini lah yang menjadi prinsip utama dalam menjalankan setiap aksi mereka.

Sesekali, jumlah relawan memang membeludak. Pada aksi tertentu, ratusan orang pernah turun bersama bahkan mencapai 400 relawan di pantai pada tahun-tahun awal berdiri. Namun momen seperti itu tidak dijadikan tolok ukur. Bagi Trash Hero, ukuran keberhasilan bukanlah keramaian, melainkan keberlanjutan.

Menariknya, saat pasca pandemi COVID-19, roda organisasi ini pernah digerakkan oleh mahasiswa dan anak muda. Namun, seiring berjalannya waktu dinamika pun berubah. Organisasi ini kini di kelola secara mandiri oleh anggota inti mulai dari pendanaan hingga rancangan seluruh kegiatan didalamnya.

Di tengah segala keterbatasan mulai dari relawan yang sedikit, medan yang berat, sampah yang terus datang Trash Hero Tumapel memilih satu hal, yaitu tidak berhenti. Mereka sadar aksi mereka tidak langsung mengubah dunia. Namun setidaknya, di setiap sungai yang mereka datangi, ada jejak perlawanan kecil terhadap krisis lingkungan. Dan mungkin, dari enam orang yang tetap turun saat yang lain pulang, perubahan itu perlahan menemukan jalannya.


Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.