
Foto : Dok Pribadi/Natera.
Halo Naters! Di tengah tren kafe estetik dan ruang publik yang serba “jadi” sejak hari pertama dibuka, Khace justru memilih untuk terus bertumbuh. Tempat ini tidak mengejar kesan instan, tetapi menghadirkan ruang yang berkembang seiring waktu. Setiap perubahan kecil membentuk karakter ruang secara perlahan dan memberi pengalaman yang berbeda di setiap kunjungan.
Di sini, kamu tidak menemukan tata ruang yang kaku atau dekorasi yang menetap. Deretan tanaman hias dalam polybag tumbuh perlahan, berubah bentuk, dan merancang ulang suasana secara alami dari waktu ke waktu. Setiap sudut menghadirkan komposisi baru yang terasa hidup, seolah ruang ini terus beradaptasi mengikuti ritme alam dan aktivitas pengunjungnya.
Ruang yang Tidak Pernah Sama Dua Kali
Pagi di Khace terasa berbeda. Cahaya matahari tidak langsung jatuh begitu saja, melainkan melewati saringan daun-daun hijau yang semakin lebat dari waktu ke waktu dan Setiap sudut menghadirkan komposisi yang terasa hidup, bukan karena dirancang sekali jadi, tetapi karena terus berkembang.
Judha Widitha, owner dari Khatulistiwa Center, menghadirkan konsep ruang yang tidak statis. Ia tidak menciptakan tempat yang selesai dalam satu waktu. Ia membiarkan ruang tersebut berkembang, mengikuti pertumbuhan tanaman yang mengisi setiap bagiannya.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Khace menanam tanaman menggunakan polybag dan menyusunnya sebagai bagian dari dekorasi lanskap. Tim tidak hanya mengejar kepraktisan, tetapi juga menerapkan strategi desain yang fleksibel. Dengan sistem ini, mereka dapat memindahkan, menata ulang, dan menyesuaikan posisi tanaman sesuai kebutuhan ruang.
“Tanaman di dalam sini itu tidak langsung di tanam ke tanah. Semuanya itu diletakkan di polybag dengan konseptual ini ditata sebagai dekorasi.” Ujar judha.
Artinya, pengunjung yang datang hari ini merasakan suasana yang berbeda dibanding pengunjung yang datang dua atau tiga bulan ke depan. Ruang terus berubah, komposisi terus berkembang, dan atmosfer terus bertransformasi seiring waktu.
Khace tidak menawarkan kesempurnaan instan. Ia menawarkan pengalaman yang hidup.
“Sehingga nanti pengunjung yang datang dua bulan lagi, tiga bulan lagi akan menemukan shape yang berbeda” Kata judha saat wawancara tim Natera.
Tanaman sebagai Arsitek Lanskap
Di Khace, tanaman bukan sekadar pelengkap. Tanaman menjadi inti dari seluruh konsep ruang dan menentukan bagaimana suasana terbentuk di setiap sudut.
Pengelola memilih dan menata berbagai jenis tanaman hias bukan hanya karena visualnya, tetapi juga karena fungsinya. Tanaman-tanaman ini menyaring cahaya agar terasa lebih lembut, menurunkan suhu ruang, sekaligus menjaga aliran udara tetap lancar.

Foto: Dok Pribadi/Natera.
Khace tidak bergantung pada pendingin ruangan atau ventilasi buatan. Tim perancang mengandalkan tanaman sebagai elemen utama dan menempatkannya secara strategis. Daun besar menyaring cahaya matahari, sementara susunan tanaman mengarahkan aliran udara agar ruang tetap sejuk dan segar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa alam mampu memenuhi kebutuhan ruang secara alami.
Penggunaan polybag memberi fleksibilitas tinggi dalam desain. Tim pengelola dapat memindahkan dan menyusun ulang tanaman dengan mudah sesuai pencahayaan dan arah angin. Mereka tidak menetapkan tata letak yang kaku, tetapi membiarkan ruang terus berkembang mengikuti kondisi lingkungan.
Khace mengurangi penggunaan energi buatan dan memaksimalkan sumber daya alami. Pendekatan ini menciptakan ruang yang lebih ramah lingkungan sekaligus lebih sehat. Melalui konsep ini, Khace mengajak orang membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam lewat desain yang adaptif.
Filosofi khace “Tempat Bertumbuh”

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Di Khace, banyak tanaman belum mencapai ukuran maksimal. Sebagian masih tumbuh, dan justru kondisi itu menjadi inti dari konsep yang dihadirkan. Khace menempatkan diri sebagai “tempat bertumbuh”, sebuah ruang yang tidak menampilkan hasil akhir, melainkan memperlihatkan proses. Pengunjung melihat tanaman bukan sekadar dekorasi, tetapi sebagai makhluk hidup yang terus berkembang.
Judha Widitha menegaskan filosofi tersebut dengan sederhana. “Makanya saya bilang Khace ini salah satu filosofinya itu tempat bertumbuh,” ujarnya. Ia membangun ruang yang terus bergerak, bukan ruang yang berhenti pada satu bentuk.
Filosofi ini terasa dekat dengan cara pandang Gen Z. Di tengah budaya serba instan, Khace mengajak pengunjung untuk menghargai proses. Ruang ini tidak menawarkan kesempurnaan, tetapi menghadirkan pengalaman yang terus berubah. Dari situ, pengunjung memahami bahwa keindahan tidak selalu bergantung pada hasil akhir, melainkan pada bagaimana sesuatu tumbuh dan berkembang seiring waktu.