Pagi masih basah saat tim penyelamat menemukan seekor bayi orangutan di Kalimantan. Tubuh kecil itu menempel lemah pada kain lusuh. Matanya terus mencari induk yang tak pernah kembali.
Namanya Peni.
Saat itu, usia Peni baru sekitar tiga tahun. Tim penyelamat datang setelah warga melaporkan konflik satwa liar di sekitar hutan. Induk Peni sudah tak mampu bertahan akibat kekerasan yang ia alami.
“Orangutan Peni adalah bayi orangutan yang mana induknya tidak bisa diselamatkan,” ujar Dika Pertiwi dari YIARI.
Cerita Peni bukan sekadar kisah penyelamatan satwa liar. Cerita ini membuka luka panjang tentang hutan yang terus kehilangan penjaganya.
Di pusat rehabilitasi, Peni tumbuh tanpa induk. Ia hidup sebagai individu yatim bersama bayi orangutan lain yang bernasib serupa.
“Orangutan Peni tumbuh menjadi individu yatim,” kata Dika.
Hari-hari Peni berjalan seperti sekolah panjang di tengah hutan buatan. Para perawat mengajarkan kemampuan dasar yang biasa induk orangutan ajarkan sejak kecil.
Peni belajar memanjat pohon sedikit demi sedikit. Ia belajar memilih buah hutan dan mengenali ranting kuat untuk tempat berteduh.
“Dia harus kembali belajar bagaimana memanjat, bagaimana cara makan buah,” ujar Dika.
Proses rehabilitasi orangutan memakan waktu lama. Tim konservasi tidak hanya merawat tubuh satwa, tetapi juga membangun kembali naluri liar mereka.
Orangutan termasuk satwa yang sangat bergantung pada induk. Di alam liar, anak orangutan bisa tinggal bersama induknya hingga delapan tahun.
Karena itu, pusat rehabilitasi hadir seperti rumah pengganti. Tempat itu menjadi ruang belajar sebelum orangutan kembali ke hutan.
Peni menjalani masa rehabilitasi selama lima tahun. Ia masuk sekolah hutan sejak usia tiga tahun hingga akhirnya siap hidup mandiri.
“Orangutan Peni berhasil kembali lulus sekolah dan akhirnya dia dilepasliarkan di usia delapan tahun,” kata Dika.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran juga penuh tantangan. Tim konservasi harus memastikan habitat cukup aman dan memiliki sumber pakan alami.
Orangutan memegang peran penting dalam regenerasi hutan. Banyak peneliti menyebut mereka sebagai petani hutan.
“Mereka punya peran sebagai penyebar biji di ekosistem,” jelas Dika.
Satu individu orangutan mampu mengonsumsi lebih dari 400 jenis pakan alami. Saat mereka berpindah, biji-biji ikut tersebar ke berbagai sudut hutan.
Saat Peni Kembali Menjadi Bagian Hutan
Hari pelepasliaran Peni datang tanpa sorak besar. Hutan menyambutnya lewat suara serangga dan kanopi basah setelah hujan.
Tim konservasi tetap memantau pergerakan Peni selama satu hingga dua tahun. Mereka memastikan Peni mampu bertahan tanpa bantuan manusia.
“Ketika orangutan rehabilitasi berhasil dilepasliarkan, mereka akan kita monitoring dulu perilakunya,” ujar Dika.
Waktu terus berjalan. Peni mulai menjelajah lebih jauh, mencari makan sendiri, lalu membangun sarang di pepohonan tinggi.
Hutan perlahan menerima kembali kehadirannya.
Beberapa tahun setelah pelepasliaran, kabar besar datang dari Hutan Lindung Gunung Tarak. Tim konservasi menemukan Peni bersama seekor bayi orangutan.
“Dia berhasil berkembang biak dan berhasil punya anak,” kata Dika.
Anak itu bernama Tarak.
Kelahiran Tarak menjadi simbol keberhasilan konservasi orangutan. Bukan hanya karena satu individu berhasil selamat, tetapi karena siklus hidup liar kembali berjalan.
Dari 154 orangutan yang dilepasliarkan, tim rehabilitasi mencatat 10 kelahiran baru di alam liar. Peni menjadi salah satu cerita paling emosional dari perjalanan panjang itu.
Cerita Peni juga mengingatkan bahwa perdagangan satwa liar masih terus terjadi. Banyak bayi orangutan kehilangan induk akibat perburuan dan pemeliharaan ilegal.
“Banyak kasus individu orangutan yang di-rescue berasal dari kasus pemeliharaan bayi orangutan,” ujar Dika.
Kini, Peni hidup jauh dari kandang rehabilitasi. Ia membesarkan anaknya di tengah hutan yang kembali hijau.
Dari bayi yatim yang kehilangan induk, Peni tumbuh menjadi ibu di alam liar. Sebuah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa hutan masih punya harapan.