Langkah kaki itu tidak pernah benar-benar mudah. Untuk sampai ke lokasi penanaman, tim reboisasi ASRI harus melewati sungai selama lebih dari satu jam, mendaki jalur berlumpur, bahkan berbagi ruang dengan habitat buaya di tepian gambut. Di musim hujan, air bisa tiba-tiba meluap. Saat kemarau datang, tanah berubah kering dan ancaman kebakaran meningkat.
Namun justru di tempat-tempat seperti itulah harapan tumbuh perlahan.
Bagi banyak orang, konservasi sering dibayangkan sesederhana menanam pohon lalu selesai. Foto bibit ditanam, dokumentasi drone, lalu publik menganggap hutan telah pulih. Padahal di lapangan, pekerjaan menjaga alam jauh lebih rumit dan panjang dari sekadar memasukkan bibit ke tanah.
ASRI memahami itu sejak awal.
Organisasi yang sejak 2007 melakukan reboisasi di kawasan Taman Nasional Gunung Palung ini tidak hanya fokus pada jumlah pohon yang ditanam. Mereka juga menjaga agar proses pemulihan hutan tidak merusak ekosistem yang sedang dipulihkan.
Reboisasi Ramah Ekosistem Tanpa Bahan Kimia
Di beberapa praktik penghijauan, bahan kimia sering digunakan untuk membersihkan gulma atau mempercepat pertumbuhan tanaman. Masalahnya, efek sampingnya bisa menghantam organisme lain yang hidup di kawasan tersebut.
Bagi ASRI, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ada tanah, mikroorganisme, serangga, air, hingga satwa liar yang saling terhubung dalam satu sistem hidup.
“Kami tidak menggunakan pestisida. Kami bukan hanya sekadar menanam saja. Kami tidak menggunakan hal-hal yang sifatnya merusak ekosistem,” kata Hen Riyadi, Koordinator Reboisasi ASRI.
Cara pandang itu terasa penting hari ini, terutama ketika isu lingkungan makin sering jadi tren visual di media sosial. Banyak konten tentang menanam pohon viral dalam hitungan detik, tetapi sedikit yang membahas bagaimana menjaga keseimbangan alam setelah pohon ditanam.
Padahal, memulihkan ekosistem tidak bisa dilakukan dengan pendekatan instan.
Ketika Hutan Pulih, Satwa Mulai Kembali
Di beberapa lokasi reboisasi ASRI, hasilnya baru benar-benar terlihat bertahun-tahun kemudian. Pohon yang ditanam pada 2009 kini telah tumbuh dengan diameter lebih dari 20 sentimeter. Kawasan yang dulu terbuka perlahan kembali menjadi habitat satwa liar.
Kembalinya satwa menjadi tanda bahwa hutan tidak hanya tumbuh secara visual, tetapi juga pulih secara ekologis. Sebab hutan sehat bukan ditentukan oleh banyaknya batang pohon, melainkan apakah kehidupan lain ikut kembali.
Hal itu juga ditekankan oleh Yayasan IAR Indonesia (YIARI) yang fokus pada rehabilitasi satwa liar. Dalam diskusi yang sama, Dika Pertiwi, Manager Edukasi dan Penyadartahuan YIARI, menjelaskan bahwa satwa memiliki peran besar dalam regenerasi hutan secara alami.
Orangutan, misalnya, dijuluki sebagai “petani hutan”.
Mereka menyebarkan biji dari ratusan jenis tumbuhan saat berpindah tempat mencari makan. Dalam satu periode, seekor orangutan bisa menjelajah area luas sambil membantu proses regenerasi hutan tanpa campur tangan manusia.
Konservasi Berkelanjutan Bukan Sekadar Proyek Hijau
Karena itu, konservasi tidak bisa dipisahkan antara pohon dan satwa. Menanam hutan tanpa menjaga satwa hanya akan menciptakan ruang hijau yang kehilangan fungsi ekologisnya.
Begitu juga sebaliknya.
Di era krisis iklim seperti sekarang, banyak anak muda mulai tertarik pada isu lingkungan. Mereka membawa tumbler, mengurangi plastik, ikut donasi tanam pohon, atau membagikan kampanye hijau di media sosial. Tapi sering kali muncul pertanyaan, apakah langkah kecil seperti itu benar-benar berdampak?
Bagi para pegiat konservasi, jawabannya iya.
Hen bahkan percaya aksi sederhana bisa menjadi awal perubahan besar. Ia bercerita tentang kebiasaan melempar biji buah ke area hijau setelah makan agar punya peluang tumbuh menjadi pohon baru.
Terdengar sepele, tetapi cara berpikir seperti itu menunjukkan bahwa konservasi bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, bukan hanya proyek besar bernilai miliaran rupiah.
Generasi Muda dan Cara Baru Menjaga Alam
Dika menilai menjaga lingkungan bukan tugas satu generasi saja, melainkan semua orang yang masih hidup hari ini. Menurutnya, manusia sering terlalu fokus mengambil manfaat dari alam tanpa memikirkan apa yang diberikan kembali.
“Kita kadang suka lupa terus mengambil tanpa memberi,” ujarnya.
Kalimat itu terasa relevan dengan gaya hidup modern yang serba cepat. Banyak orang ingin menikmati alam, tetapi sedikit yang benar-benar menjaga keberlanjutannya. Hutan dianggap penting ketika banjir datang, udara memburuk, atau suhu makin panas. Setelah itu, perhatian publik sering berpindah lagi.
Padahal konservasi bekerja dalam ritme yang berbeda. Ia lambat, sunyi, dan sering tidak viral.
Butuh belasan tahun untuk melihat pohon tumbuh besar. Butuh waktu panjang agar satwa kembali percaya pada habitatnya. Dan butuh konsistensi untuk menjaga hutan tetap hidup tanpa merusaknya dengan bahan kimia atau eksploitasi baru.
Di situlah konservasi menemukan maknanya yang paling nyata bukan sekadar menanam pohon, melainkan memastikan seluruh kehidupan di sekitarnya tetap bisa bertahan secara alami.