Orangutan, “Petani Hutan” yang Diam-Diam Menjaga Iklim Dunia

Orangutan berperan penting sebagai “petani hutan” yang membantu menyebarkan biji dan menjaga regenerasi hutan tropis secara alami.
Dokumentasi: Pinterest/@namaakun, diakses Mei 2026.

NATERA.ID – Orangutan selama ini sering dipandang hanya sebagai satwa liar yang terancam punah. Padahal, di balik kehidupannya di hutan tropis, orangutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam webinar Bincang ASRI Episode 8 bertajuk “Konservasi Hutan dan Satwa sebagai Aksi Iklim Dunia”, orangutan bahkan disebut sebagai “petani hutan” karena kemampuannya membantu regenerasi hutan secara alami.

Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Orangutan membantu menyebarkan biji dari buah-buahan yang mereka konsumsi ke berbagai wilayah hutan. Proses itu membuat pohon-pohon baru tumbuh dan menjaga keberlanjutan ekosistem hutan tropis.

“Dia disebut sebagai petani hutan,” ujar Dieka Pertiwi, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI dalam siaran langsung Instagram @alamsehatlestari, Kamis (15/5/2026).

Orangutan dan Perannya Menyebarkan Kehidupan di Hutan

Orangutan memiliki pola hidup berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari makan. Saat mengonsumsi buah, biji-biji yang tidak tercerna akan keluar kembali melalui kotoran dan tersebar di berbagai area hutan. Dari proses alami itulah regenerasi hutan terjadi.

Peran ini membuat orangutan menjadi salah satu spesies penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Tidak hanya membantu pertumbuhan pohon baru, keberadaan orangutan juga ikut menjaga rantai kehidupan satwa lain yang bergantung pada hutan tropis.

Dalam diskusi tersebut, Dieka menjelaskan bahwa hilangnya satwa tertentu dapat berdampak besar terhadap regenerasi hutan.

“Ada tumbuhan yang tidak bisa hidup atau tidak bisa tumbuh dari mekanisme satwa tertentu ketika tidak ada penyebaran biji,” jelasnya.

Artinya, ketika populasi orangutan terus menurun, kemampuan hutan untuk beregenerasi juga ikut terancam. Padahal, hutan tropis memiliki peran besar sebagai penyerap emisi karbon dunia.

Hutan dan Satwa Tidak Bisa Dipisahkan

Pembahasan dalam webinar juga menyoroti hubungan erat antara hutan dan satwa liar. Menurut Dieka, seluruh elemen dalam ekosistem saling terhubung dan saling bergantung satu sama lain.

“Semua satwa dengan tumbuh-tumbuhannya di dalamnya itu saling ketergantungan,” katanya.

Ketika hutan rusak akibat deforestasi atau perubahan iklim, satwa liar kehilangan habitat alaminya. Sebaliknya, ketika populasi satwa tertentu hilang, proses regenerasi hutan juga ikut terganggu.

Dieka mencontohkan satwa yang hidup di hutan hujan tropis membutuhkan kanopi pohon untuk bertahan hidup. Saat tutupan hutan berkurang, mekanisme ekologi mereka ikut berubah dan berdampak terhadap populasi satwa tersebut.

“Ketika lingkungannya berubah, tentu secara ekologi mekanismenya juga berubah dan itu akan berdampak kepada kehidupan mereka,” jelasnya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa konservasi satwa liar tidak hanya tentang menyelamatkan hewan tertentu, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem secara menyeluruh.

Konservasi Jadi Bagian dari Aksi Iklim Dunia

Selain membahas orangutan, webinar yang diselenggarakan EPYC Indonesia, Gpl Yuk!, dan iLitterless itu juga menyoroti pentingnya konservasi sebagai bagian dari aksi menghadapi krisis iklim global.

Koordinator Reboisasi ASRI, Hendriadi, menjelaskan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Menurutnya, aksi kecil yang dilakukan secara konsisten tetap memiliki dampak terhadap pemulihan ekosistem.

“Lakukan aksi-aksi yang kecil, jangan kita menganggap aksi-aksi kecil ini tidak bermanfaat,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan bahan kimia dalam aktivitas sehari-hari serta menjaga lingkungan sekitar dari tindakan yang merusak alam.

Sementara itu, Dieka mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga bumi bukan hanya milik generasi muda, tetapi semua generasi yang masih hidup saat ini.

“Kita sudah cukup banyak mengambil yang ada, jadi mari kita kembali untuk memberikan apa yang bisa kita lakukan untuk bumi kita ini,” katanya.

Menurutnya, menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti menghemat listrik, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga tidak mendukung perdagangan satwa liar.

Narasumber dan moderator saat webinar Bincang ASRI Episode 8 bertajuk “Konservasi Hutan dan Satwa sebagai Aksi Iklim Dunia” yang diselenggarakan melalui Instagram Live, Kamis (15/5/2026). 
Dokumentasi: Natera

Hilangnya Orangutan Berarti Hilangnya Penjaga Ekosistem

Orangutan bukan hanya simbol satwa langka Indonesia. Lebih dari itu, mereka merupakan penjaga keseimbangan hutan tropis yang selama ini membantu kehidupan manusia secara tidak langsung.

Dalam webinar tersebut disebutkan bahwa satu individu orangutan bahkan mampu menjaga hutan dalam cakupan luas melalui aktivitas alaminya menyebarkan biji. Kehadiran mereka membantu mempertahankan keberagaman tumbuhan yang menjadi fondasi kehidupan di hutan.

Ketika populasi orangutan terus menurun akibat perburuan dan hilangnya habitat, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh satwa lain, tetapi juga manusia. Kerusakan hutan dapat memperparah perubahan iklim, meningkatkan risiko bencana, hingga mengurangi kualitas lingkungan hidup.

Karena itu, konservasi satwa dan hutan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bumi. Menjaga orangutan berarti menjaga regenerasi hutan, menjaga hutan berarti membantu menjaga iklim dunia tetap seimbang.

Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, keberadaan “petani hutan” seperti orangutan menjadi pengingat bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup asal manusia tidak berhenti menjaganya. 

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.