
Foto: Dokumentasi pribadi/natera
Mengajarkan cara mengolah sampah organik mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Gung Endah, langkah kecil itu telah berkembang menjadi gerakan edukasi yang menjangkau ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia. Berawal dari sebuah grup WhatsApp, ia kini dikenal sebagai mentor eco enzyme yang aktif mendampingi masyarakat belajar mengolah limbah dapur menjadi produk bermanfaat.
Semuanya bermula setelah ia mengenal eco enzyme pada awal 2020. Ketertarikannya terhadap hasil fermentasi kulit buah dan sayuran tidak berhenti pada praktik di rumah sendiri. Gung Endah justru merasa ilmu tersebut harus dibagikan kepada lebih banyak orang agar semakin banyak sampah organik yang dapat dimanfaatkan.
“Aku merasa menemukan sesuatu yang bisa aku perjuangkan,” ungkapnya.
Keinginan berbagi itulah yang mendorongnya mulai membuka ruang belajar sederhana melalui grup WhatsApp. Di sana, ia mendampingi peserta mulai dari mengenal konsep eco enzyme, proses fermentasi, hingga cara memanfaatkan hasilnya dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring bertambahnya peserta, Gung Endah menyadari bahwa edukasi tidak cukup hanya dilakukan melalui percakapan di grup. Ia kemudian menyusun modul pembelajaran secara mandiri, membuat materi presentasi, hingga mendokumentasikan berbagai praktik pembuatan eco enzyme agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Menurutnya, proses belajar harus dibuat sederhana sehingga siapa pun dapat mempraktikkannya di rumah.
“Tantangannya berat karena ini sesuatu yang baru dan rata-rata menolak. Tapi aku pikir ini sesuatu yang baik, kenapa harus berhenti?” katanya.
Konsistensi tersebut perlahan membuahkan hasil. Peserta yang sebelumnya hanya berasal dari lingkungan sekitar mulai datang dari berbagai kota. Mereka tidak hanya belajar membuat eco enzyme, tetapi juga menjadi penggerak di daerah masing-masing.
Untuk memperluas dampak, Gung Endah membentuk koordinator di berbagai wilayah agar edukasi dapat terus berjalan tanpa bergantung pada dirinya seorang. Pendekatan itu membuat penyebaran pengetahuan berlangsung secara berantai. Murid yang telah mahir didorong untuk kembali mengajarkan eco enzyme kepada masyarakat di sekitarnya.
“Lewat aku yang ajar masuknya. Jadi tantangan-tantangan seperti itu sih,” ujarnya saat menceritakan proses mendampingi para pembelajar.
Baginya, keberhasilan bukan diukur dari banyaknya orang yang mengenalnya, melainkan dari semakin banyak keluarga yang mulai memilah sampah organik dan mengolahnya menjadi eco enzyme. Ia percaya perubahan lingkungan harus dimulai dari rumah, lalu menyebar ke lingkungan sekitar melalui edukasi yang dilakukan secara konsisten.
Kini, perjalanan yang berawal dari ruang obrolan daring telah berkembang menjadi jaringan pembelajaran yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai daerah. Gung Endah terus mendampingi para pembelajar, menyusun materi, dan membuka ruang diskusi agar semakin banyak masyarakat memahami bahwa perubahan besar terhadap lingkungan dapat dimulai dari satu wadah fermentasi di dapur rumah.
Bagi Gung Endah, menjadi mentor bukan sekadar mengajarkan cara membuat eco enzyme. Lebih dari itu, ia ingin menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan menjadi bagian dari solusi persoalan sampah, dimulai dari langkah sederhana yang kemudian menginspirasi orang lain untuk bergerak bersama.