
Foto: kompas.id
Bagi sebagian orang, kulit buah dan sisa sayuran hanyalah limbah yang harus segera dibuang. Namun di tangan Gung Endah, ia berhasil ubah sampah organik justru menjadi awal lahirnya berbagai produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Perempuan asal Kota Batu itu meyakini bahwa persoalan sampah tidak hanya bisa diselesaikan melalui pengurangan limbah, tetapi juga dengan menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Melalui eco enzyme, ia mengajak warga mengolah sampah dapur menjadi bahan baku berbagai produk ramah lingkungan yang memiliki nilai jual.
Menurut Gung Endah, ketertarikan masyarakat terhadap eco enzyme semakin besar ketika mereka mengetahui bahwa hasil fermentasi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk turunan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang-orang itu awalnya tertarik belajar bikin sabun. Nah, supaya bisa bikin sabun, mereka harus punya eco enzyme dulu. Akhirnya mereka belajar membuat eco enzyme lebih dulu,” ujarnya.
Dari proses itu, edukasi mengenai pengelolaan sampah organik berkembang menjadi peluang pemberdayaan masyarakat. Eco enzyme tidak lagi dipandang sekadar cairan hasil fermentasi, tetapi menjadi bahan dasar pembuatan sabun, cairan pembersih, hingga berbagai produk ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan sendiri maupun dipasarkan.
Bagi Gung Endah, pendekatan tersebut membuat masyarakat lebih mudah memahami bahwa menjaga lingkungan tidak harus bertentangan dengan peningkatan kesejahteraan. Justru sebaliknya, ketika sampah diolah dengan tepat, limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat berubah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi.
Ia pun aktif memberikan pelatihan kepada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, komunitas bank sampah, hingga pelaku UMKM. Dalam setiap pelatihan, ia tidak hanya mengajarkan teknik fermentasi eco enzyme, tetapi juga membagikan cara mengembangkan produk turunannya agar memiliki nilai tambah.
Sekarang eco enzyme sudah boleh diperjualbelikan. Jadi masyarakat bisa mengembangkan produk-produknya sendiri,” katanya.
Menurutnya, perubahan pola pikir menjadi kunci utama. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, peluang ekonomi dari limbah organik akan sulit berkembang. Sebaliknya, ketika sampah dipandang sebagai sumber daya, akan muncul berbagai inovasi yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Meski demikian, Gung Endah menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan semata menghasilkan keuntungan. Baginya, nilai ekonomi hanyalah pintu masuk agar semakin banyak masyarakat tertarik belajar mengolah sampah secara bertanggung jawab.
“Harapanku lebih banyak orang yang sehat, lebih banyak orang peduli lingkungan, dan lebih banyak sampah yang bisa dikurangi,” tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, Gung Endah membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana di dapur rumah. Dari kulit buah dan sisa sayuran yang dahulu dianggap tidak berguna, kini lahir produk-produk bernilai ekonomi yang sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan.